KPPS MTs Adakan Pelatihan Kerajinan

  • Kajen(14/02) Demi menggali potensi siswa MTs Salafiyah, serta membekali mereka dengan keterampilan, Organisasi Keluarga Pelajar Putri Salafiyah (KPPS) melaksanakan Program Keputrian yaitu pelatihan menghias baki lamaran. Acara sederhana itu dilaksanakan Jum’at 16 Februari 2018 di ruang galeri MTs Salafiyah mulai pukul 08.00 WIB. Acara tersebut mengundang perhatian banyak santriwati yang diikuti oleh kelas VII dan VIII dengan jumlah perserta sebanyak 75 siswa. Pembina KPPS Masna mahida mengungkapkan tujuan diadaakan pelatihan tersebut agar ke depannya meraka dapat mempraktikan kemampuan dan keterampilan mereka untuk dapat membantu masyarakat ketika dibutuhkan, khususnya ketika akan ada acara lamaran atau cindera mata lainnya. “Pemateri memberikan contoh dua model baki lamaran. Kemudian di saat bersamaan anak-anak lanjut mempraktikan apa yg dilihat dan disampaikan pemateri. Alhasil, ada puluhan baki lamaran model pengantin hasil kreativitas peserta dari masing-masing kelas”, beber Masna. Ibu Shofiatun, selaku pemateri juga merasa senang dengan semangat dan kreativitas anak-anak. Terlebih ketika tiap kelas mampu menghasilkan produk baki lamaran yang bervariatif. “Semoga anak-anak dapat mengembangkan apa yang diperoleh, agar syukur-syukur nanti dapat menjadi usaha sampingan setelah lulus”, bebernya. (MR/MTs-SLF)

    27 Feb
    27 Feb
  • Peristiwa habisnya air di lingkungan MTs Salafiyah sudah terjadi tidak hanya satu atau dua kali, namun sudah beberapa kali terjadi. Beberapa waktu lalu, tepatnya Kamis (18/01) peristiwa itu kembali terjadi. Hal tersebut membuat warga madrasah baik siswa, guru, maupun karyawan merasa kesulitan untuk melakukan wudhu, buang air, dan segala kegiatan yang berhubungan dengan masalah air. Permasalahan tersebut yang paling bertangggung jawab adalah Wakil Kepala Madrasah Bagian Sarana dan Prasarana (Waka. Sarpras) MTs Salafiyah, Khoirul Anam,S.Pd. Ia pun harus turun tangan sendiri guna menyelesaikan permasalahan air yang terjadi. “Setelah melakukan pengecekan awalnya saklar otomatis di bak tampungan air itu mati dan permasalahannya tidak lain ialah konsleting. Kejadian tersebut baru diketahui sekitar pukul 10.30 WIB”, ungkapnya. Ia pun mengungkapkan untuk ke depannya akan malakukan pengecekan terstruktur setiap pukul 10.00 WIB agar peristiwa krisisnya air tidak terulang kembali. Serta perlu adanya pengontrolan sebelum digunakan secara masal. Selain itu, salah satu siswi MTs Salafiyah Zaima saat ditemui tim At-Tatsqif membeberkan cara bagaimana mengatasi  masalah ketika air sedang macet. “Tindakan pertama ketika tahu kalau air akan habis segeralah berwudhu, janganlah bermain-main atau membuang waktu mengobrol dengan teman. Namun, jika air sudah benar-benar habis terpaksa saya mencari air di beberapa kamar mandi madrasah. Kalau tetap saja kehabisan barulah saya pergi ke gedung MA Salafiyah, walaupun agak cukup menyita waktu”, bebernya sembari tersenyum.[]   Berita/At-Tatsqif/Januari-2018 [Red. Ine Febrianti dan Fildzah Luna]

    18 Feb
    18 Feb
  • Pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan namum juga ketrampilan.  Hal itu sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Senin (22/01) diadakan praktik pengamatan langsung materi organisasi kehidupan, khususnya tumbuhan pada bawang merah dan bawang putih. Pada kegiatan tersebut perkelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Per-kelompok kemudian diarahkan ke laboratorium IPA. Hal itu dilakukan agar menjadikan suasana lebih kondusif. Guru IPA Bapak Fahruddin, S.Pd mengatakan tujuan praktik dilakukan guna memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melihat bagaimana bentuk sel-sel yang ada pada tumbuhan, khususnya pada bawang merah dan bawang putih. “Praktik ini saya lakukan agar siswa tahu perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan”, ungkapnya. Para siswa terlihat semangat walaupun ada beberapa kendala. “Alat dan jumlah terbatas sehingga harus bergantian sehingga menghabiskan banyak waktu, mengingat keterbatasan waktu pembelajaran”, tambahnya. Sementara itu, salah satu siswa Robet D Firdaus mengaku merasa senang karena mendapatkan pengalaman langsung. “Bukan hanya teori yang kami dapatkan, namun kami juga dapat menyaksikan secara langsung sel-sel tumbuhan dengan alat bantu mikroskop. Walaupun hanya sebentar,hehe”, ungkapnya sembari membelah bawang merah di tangannya. [Faizatun/At-Tatsqif/Januari-2018-Halaman1]

    05 Feb
    05 Feb
  • Kata “santri” tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Jika kita menilik dengan saksama, kata santri berarti orang yang menuntut ilmu dan melakukan aktivitas hidup lain di lingkungan pesantren. Biasanya, jumlah santri di sebuah pesantren begitu banyak. Dengan jumlah yang banyak itu, pihak pesantren akan menempatkan mereka secara berkelompok dalam kamar-kamar yang telah ditentukan. Kondisi ini membuat santri menjadi lebih gemar bersosialisasi dengan santri lain. Kebiasaan bersosialisasi merupakan hal yang baik. Hal itu mengajarkan kepada santri untuk mengenal kultur masyarakat kita yang suka dan hobi bersosialisasi. Namun, jangan sampai sosialisme santri itu mengarah ke hal yang negatif, seperti berprasangka buruk. Apalagi jika itu dilakukan mereka sampai larut malam atau malahan sampai menjelang subuh. Mungkinkah kaum santri salah persepsi tentang pengajian ustadz dan kyai lewat pelantang saat mengaji di pesantren? Tentang sebuah nasihat ‘Wong kang pengen ngalim ilmu kudu wani melek wengi’. Pada akhirnya mereka dengan bangga berlatih melek wengi. Semua santri baik santri baru dan lama, semakin gemar melaksanakan ritual melek wengi sesuai dengan apa yang mereka yakini. Ada yang gemar diskusi tentang perempuan, ada pula tentang bagaimana cara membully santri lain saat tidur, juga tentang menu makan tempe baceman (baca: semur). Semua itu bahkan jauh melenceng dari kewajiban belajar dan diskusi masalah (batsul masa’il). Apalagi mereka berpikir tentang bagaimana kiat menjadi orang sukses. Sangat jauh daripada itu. Kalo begitu, mau sampai kapan hal demikian itu berlangsung? Dan apa yang akan mereka bawa saat pulang ke masyarakat nanti. Baik, kita perlu membahas lebih lanjut soal melek wengi yang sedang viral di kalangan santri, serta usaha-usaha memperbaiki persepsi sekaligus penerapan santri soal melek wengi. Namun, usaha-usaha itu tentu akan menghadapi tantangan yang berat di era digital ini. Mereka cenderung memanfaatkan waktu malam untuk hal yang mengarah kemudhorotan. Apalagi jika telah memasuki dunia yang serba canggih dan modern seperti ini. Seluruh warganet terlebih santri, jika tidak mampu memfilter segala informasi akan turut serta mengikuti tren ke arah negatifitas. Waktu malam yang mereka dapatkan hanya akan menghasilkan pelajaran yang nol-manfaat. Para ustadz atau kyai yang mengajar harus kian waspada dan memantapkan niat para santri, menanamkan nilai-nilai yang baik, dan memberikan persepsi yang bijak sehingga para penuntut ilmu itu tetap istiqomah di atas marwah kesantrian; menjadi santri yang mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat. Sementara itu, banyak pula kita jumpai para santri dalam kelas-kelas formal yang menghabiskan waktunya untuk tidur. Inilah dampak ritual yang mereka lakukan saban malam. Hal ini pun kadang dengan bangga mereka sebut ‘ngibadah’. Mungkinkah kalian termasuk di dalamnya? Memang benar! Tidur yang bernilai ibadah apabila dilakukan saat kita berpuasa. Saat kita berpuasa lho ya! Terus kalau tidak berpuasa apa iya? Ngarang!!! Begitu pula melek wengi, akan lebih bermanfaat jika dilakukan untuk belajar, diskusi, dan beribadah. Itulah sebenar-benarnya yang dimaksud ustadz dan kyai. Jika kita tetap berpikir bahwa dampak melek wengi itu tidur pada siang harinya, dan bernilai ibadah . Lebih baik kita tidur saja selamanya, dan sekalian tidak usah bangun. Biar kalian menjadi ahli ibadah yang hakiki.[] (MR/Essay/MTs-SLF)

    03 Feb
    03 Feb