Latihan Paskibra untuk Menyambut HUT RI ke-73

  • Menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, kemarin (08/08) Siang menjelang sore, sekitar pukul 14:30 WIB di MTs Salafiyah melakukan beberapa persiapan, yaitu melaksanakan latihan Paskibra dan Marching Band. Latihan Paskibra ini di pandu oleh Ade Irma Widodo salah satu guru di MTs tersebut. Ia memilih siswi-siswi pilihan yang terdiri atas kelas VII, VIII, dan IX. Latihan Paskibra ini di mulai sebelum upacara HUT RI sampai upacara tersebut dilaksanakan. Ia juga mengatakan bahwa upacara dapat menumbuhkan sikap disiplin dan cinta tanah air, karena tujuan utama dari kegiatan Paskibra adalah untuk menanamkan karakter kebangsaan. Ternyata latihan baris berbaris atau yang biasanya disebut Paskibra ini tidak semudah yang kita bayangkan lho…. Karena latihan Paskibra itu harus menyatukan gerakan dari semua anggota Paskibra dan setiap anggota itu memiliki karakter PBB yang berbeda-beda. “Yang pasti sulit, karena menyatukan 19 anggota yang mempunyai karakter PBB yang berbeda-beda.”, tutur Ade Irma Widodo di sela-sela melatih. Salah satu anggota paskibra Dewi Safitri Indriyana kelas IX D . Ya, walaupun orangnya tidak begitu cantik, tapi Insya’Allah hatinya selalu baik. Ia mengatakan ”Paskibra menjadikan ia lebih bertanggung jawab dari segi kedisiplinan, mengatur diri sendiri, dan kekompakan ,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa memang sulit mengikuti kegiatan Paskibra ini, sulit untuk mencari waktu luang yang pas untuk latihan dan sulit untuk menyamakan gerakan satu sama lain, namun jika sudah lancar gerakannya semua akan terasa mudah, tapi hal sulit tersebut tidak mempengaruhinya untuk terus berlatih Paskibra. Karena dia memiliki keinginan yang kuat untuk bisa melakukan gerakan Paskibra. Tuh, terbayangkan sulitnya Paskibra? Yang pasti tetap semangat latihannya ya untuk semua anggota Paskibra.   Penulis M Hafaz S, M Nurul Fajri, dan Ulil Albab Anggota At-Tatsqif MTs Salafiyah 2018/2019

    09 Aug
    09 Aug
  • Kesadaran Budaya Siswa Kini Dewasa ini budaya-budaya di negeri kita ini semakin tergeser dengan adanya kebiasaan budaya-budaya dari luar. Bahkan sampai mereka tidak sadar akan budayanya sendiri, alhasil budaya di negeri kita ini hampir saja musnah. Apalagi di kalangan kita sendiri siswa-siswi (pelajar) masa kini. Kita lebih cenderung bergaya ala kebarat-baratan yang sekarang ini lagi ngehits-ngehitsnya. Paling pol ada sebagian siswa yang hanya mentok ikut-ikutan bergaya seperti kelompoknya agar terlihat lebih gaul dan mengikuti zaman. Jika demikian, Apakah kesadaran sudah ada pada diri kita? Entahlah. Sadar merupakan sebuah aktivitas di mana seseorang melakukan sesuatu dengan dibarengi pemikiran akal sehat yang diterimanya. Salah satu contoh ketika di sekolah, kita akan dapat pengajaran dari seorang guru. Benar atau tidak penjelasan guru akan kita pahami ketika siswa itu serius mendengarkan. Begitupun dengan perkembangan kebudayaan yang pesat ini. Kita harus paham betul asal budaya tersebut, dampak yang akan dibawa, serta apakah dapat berterima oleh pemikiran masyarakat kita atau tidak. Jika kita sadar pastilah dapat mengetahui sikap apa yang harus dilakukan. Bukankah itu merupakan hakikat sadar yang sesungguhnya. Selain itu, fenomena sekarang mereka malah cenderung membiasakan diri bermain gadged dan Android. Mereka pun kadang lupa dengan budayanya sendiri dan asal mula budaya yang telah dijalankan nenek moyangnya dulu. Seperti dolanan-dolanan jawa yang akan lebih mencerdaskan dan menciptakan kerukunan generasi bangsa. Yang mereka tahu hanyalah sekedar memakai baju adat daerah dan tembang-tembang daerah, tapi mereka tidak tahu makna filosofis dan asal mula budaya tersebut. Payah! Mereka menilai budaya seperti itu sudah kuno dan tidak zaman lagi untuk diikuti dan dipelajari. Di lain sisi, banyak orang asing atau turis dari luar yang rela datang ke Indonesia hanya sekadar untuk melihat dan mempelajari budaya kita. Terbalik bukan? Seharusnya kita sebagai siswa itu sadar akan budaya Indonesia yang kaya. Kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan dan mempelajari budaya-budaya yang dimiliki Indonesia. Agar budaya yang ada dapat tetap terjaga agar tidak diambil oleh bangsa lain. Persoalan yang harus segera diselesaikan adalah sekarang ini seakan-akan para siswa zaman now sudah terhipnotis dengan arus budaya digital zaman sekarang. Dan sudah tidak ada kesadaran lagi untuk berbudaya. Kiita perlu ingat bahwa menjaga sama dengan cinta. Menjaga apa yang dimiliki bangsa Indonesia sama artinya cinta terhadap tanah air. Sebagai seorang santri pun harus paham bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Kita harus sadar itu, serta tidak usah malu memperkenalkan budaya kita kepada bangsa lain. Jangan kita nilai arti budaya itu dari kunonya, melainkan jadikanlah budaya sebagai suatu keistimewaan yang sudah kita miliki. Semakin banyak pemuda yang gemar mempelajari budaya maka akan semakin berkembang budaya yang kita miliki. Maka dari itu, agar Indonesia tetap terjaga keistimewaannya. Jagalah budaya kita bersama. Karena suatu kebudayaan itu sangat mahal harganya. Budaya adalah simbol dan ciri khas dari negeri itu sendiri.   Penulis: Melka Azka R, Tiara Rahma SNJ, Ine Febrianti, dan Fildzah Luna Sabrina L (Terbit di Majalah At-Tatsqif Edisi keempat Tahun 2017)

    02 Aug
    02 Aug
  • Kajen (31/07) Akhir bulan Juli Siswa-siswi MTs Salafiyah melaksanakan kegiatan Shalat Dhuha berjamaah sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan siswa, serta diikuti oleh istighosah bersama di halaman madrasah. Suasana tampak khas dengan gemuruh lantunan bacaan kalam Illahi. Hal ini sebagai pertanda bahwa makhluk itu hanya seberapa butiran di mata Sang Illahi. (NEWS_MTs-SLF)

    02 Aug
    02 Aug