– Biografi Kyai –

  • GENEALOGI KEILMUAN KIAI CERDAS DALAM BINGKAI BIOGRAFI KIAI AS’AD SAID ALI Oleh: Imroatul Musfiroh Kiai As’ad Said Ali adalah sosok kiai modern dan kharismatik juga memiliki banyak pengalaman dalam beberapa bidang dan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh khususnya dalam kalangan NU, meskipun jika dilihat dari sepak terjangnya beliau yang sekarang sangat jauh dengan dunia pesantren akan tetapi sebenarnya beliau sangat dekat dengan dunia pesantren, karena latar belakang keluarganya yang religius yaitu dari kalangan NU. Maka dari itu sosok Kiai As’ad Said Ali sangat menarik untuk dikaji dalam penulisan ini. Riwayat Hidup Kiai As’ad Said Ali Dari hasil wawancara dengan Kiai Mohammad Ulil Albab, S.Ag, M.Si, sebagai salah satu keponakan dari KH As’ad Said Ali, KH. As’ad Said Ali lahir di Kudus pada tanggal 3 Mei 1949 dari pasangan H. Said ali dan Hj. Asyrofah sebagai anak tunggal. Beliau menikah dengan Dra. Endang Sri Alina dan dikaruniai empat orang anak yaitu Zaqi Ismail, Filsafah F Wulandari,  Alex Yordanto  dan Ahmad Damasanto. Riwayat Pendidikan Beliau mengawali pendidikannya di Madrasah Ibdtidaiyah (SD) Al Ma’arif pada tahun 1956-1962 dan melanjutkan SMP di Kudus pada 1962-1965. Setelah itu beliau meneruskan pendidikan SMA-nya juga di Kudus selama 3 tahun, yaitu 1965-1968.  Lalu beliau meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) fakultas Sospol Hubungan International (FISIPOL) Yogyakarta pada tahun 1968-1974. Pada saat beliau menjadi mahasiswa, beliau juga mondok di  Pesantren Al-Munawwar Krapyak Yogyakarta selama 5 tahun dalam asuhan KH Ali Ma’shum  yaitu sekitar tahun 1969-1974. Setelah itu, Kiai As’ad Said Ali menempuh pendidikannya di LIPIA pada tahun 1979-1780. Latar belakang pengalaman dan intelektual itu membuat dia meraih gelar doktor honoris causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang. Pengalaman Organisasi Saat beliau duduk di bangku SMA beliau sangat aktif mengikuti organisasi yang berhungan dengan NU, salah satunya yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama) dan juga GP Ansor bersama para pemuda kudus. Selain itu organisasi kemahasiswaan seperti PMII dan HMI juga pernah beliau ikuti. Menjadi ketua seksi ilmiah dalam Korps Mahasiswa Hubungan International juga pernah ia jalani. Dari serangkaian aktivitas kemahasiswaan itu yang tentunya membuat beliau semakin berwawasan dan memahami mengapa islam menekankan sikap tasawuth-i’tidal, tawazun dan tasamuh. Pada tahun 2010-2015 beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, keberadaan beliau di organisasi ini menjadi tempat untuk menularkan ilmu-ilmu dan pengalamannya tentang bela negara dan cinta tanah air dengan mengadakan seminar dan diskusi ilmiah, serta menjalin hubungan silaturahmi dengan para ulama negara Timur Tengah. Pengalaman Pekerjaan Pada saat ini KH. As’ad Said Ali merupakan salah satu Pengasuh dan Pengurus Pesantren Salafiyah Kajen Pati, pesantren yang santrinya lebih dari 2000 orang. Di Kajen-Pati, beliau menjabat sebagai Ketua Yayasan Salafiyah, banyak sekali kiprah beliau di yayasan yang beliau kelola. Salah satunya yaitu beliau berusaha meningkatkan sumber daya manusia para siswa-siswi madrasah agar bisa menduduki bangku kuliah di luar negeri sehingga mereka mampu bersaing di dunia nasional maupun internasional. Karena beliau beranggapan bahwa kualitas siswa-siswi yang baik akan memberikan banyak generasi muda yang bisa dibanggakan. Selain itu, beliau juga meninggkatkan SDM para pengajar  agar kompeten sehingga mampu memberikan pehaman yang baik kepada siswa. Pada tahun 1975 beliau memulai karirnya sebagai anggota BIN (Badan Inteligen Negara), beliau menjabat sebagai Kasi (kepala seksi) selama 2 tahun, sebelumya dalam kurun 7 tahun beliau sudah ditugaskan ke beberapa negara seperti Amerika, Afrika, dan Asia lebih dari 50 negara, antara lain Arab Saudi, Syria, Lebanon, Negara-negara Asean, Jepang, Korsel, AS, Australia, Austria, Nedherland, India dll. Hal ini yang membuat beliau memiliki banyak pengalaman. Karena keintelektualitasnya itulah setelah lulus dari UGM beliau diminta oleh tokoh NU Subhan ZE untuk berkiprah di Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN). Berbekal ilmu hubungan internasional dan pesantren. Awalnya beliau ditunjuk untuk menjadi Kasi…

    23 Nov
    23 Nov
  • Oleh : Zainal Abidin Sejarah mencatat bahwa Islam di Nusantara pernah mengalami masa kejayaannya, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab keagamaan karya ulama Nusantara abad 16 hingga 20-an. Beberapa tokoh ulama yang menulis kitab-kitab saat itu ialah Abd al-Rauf Singkel (w. 1693), dengan karya Tafsir Turjuman al-Mustafid, Abd al-Samad al-Falimbani (w. 1789) dengan karya Sayr al-Salikin, Arsyad al-Banjari (w. 1812) dengan karya Sabil al-Muhtadin. KH.Sholeh Darat (w. 1903) dengan karya Syarh al-Hikam, Majmu’at al-Syariah li al-Awam. Ditambah lagi, ulama Nusantara saat itu memiliki peran yang penting hingga tingkat internasional. Beberapa diantaranya menjadi mufti dan pengajar di Mekkah, seperti Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1898) pengarang tafsir Marah Labid , ada juga Syekh Yasin Al-Fadani yang memegang sanad hadis dunia. Kitab-kitab diatas hanyalah sampel yang menghiasi kurun abad 16 hingga 20-an awal. Namun ternyata, aksara Jawi yang menjadi ciri khas budaya Islam secara massif telah digunakan di wilayah Melayu meliputi Indonesia, Brunei, Malaysia, Patani, dan Singapura sejak abad ke -14. Saat itu telah menjadi salah satu tulisan resmi untuk keperluan keagamaan. Keterangan ini diperkirakan Braginsky, seorang Doktor sastra Indonesia dan Malaysia yang kini mengajar di School of Oriental and African Studies, Universitas London. Sedangkan menurut Oman Fathurrahman, sejak abad ke-13 penetrasi Islam bergerak semakin kuat hingga menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa politik, dagang, agama. Inilah yang menyebabkan perubahan penting dalam sejarah dan tradisi tulis naskah. Tradisi menulis naskah dengan nuansa Islam semakin marak, hal ini dibuktikan dengan hasil pencatatan mutakhir yang dilakukan oleh Henri Chamberd-Loir dan Oman Fathurrahman menyatakan bahwa terdapat sekitar 5000 manuskrip Melayu, baik yang disimpan di dalam dan di luar negeri. Itupun belum ditambah pendataan oleh Lembaga Malaysia dan Brunei Darussalam yang memperoleh ribuan naskah Melayu di berbagai tempat. Manuskrip-manuskrip inilah yang menjadi saksi atas kejayaan Islam saat itu. Bagaimana sikap kehidupan antar masyarakat, kondisi sosial, ajaran tasawuf hingga konsep teologi yang berkembang saat itu terekam di lembaran-lembaran naskah. Selanjutnya naskah-naskah kuno itu tak mungkin akan terbaca oleh generasi sekarang karena terjadi distingsi atau jarak yang lama antara masa lalu dan masa kini. Aksara dan bahasa yang digunakan pun telah mengalami perubahan. Sehingga diperlukan sebuah alat yang bisa menjembatani keterpautan ini. Disinilah kegunaan ilmu filologi, karena filologi is about reading manuscripts. Dengan filologi teks kuno dapat dicek kebenarannya, bisa dilakukan penyuntingan jika ada kesalahan, transliterasi bahkan penerjemahan agar bisa dibaca oleh khalayak masa kini. Kajian Filologi Semakin Eksis Seperti yang ditulis oleh Vini Hidayani, sekarang kajian filologi di Indonesia semakin eksis . Beberapa bulan lalu, Perpustakaan Nasional baru selesai menyelenggarakan Festival Naskah Nusantara jilid IV yang berlangsung dari tanggal 17-23 September. Kegiatan yang bertajuk Relevansi, konstektualisasi, dan aktualisasi nilai-nilai kearifan dalam naskah nusantara menuju Indonesia maju ini banyak dikunjungi oleh akademisi dan masyarakat umum. Dalam festival tersebut banyak diselenggarakan seminar tentang potensi kemajuan, termasuk salah satunya dari Kementerian Agama. Upaya pemerintah untuk memperhatikan naskah-naskah Nusantara termasuk manuskrip Agama Islam, ternyata disambut baik oleh akademisi dan pecinta kajian naskah. Selain adanya pergerakan yang dilakukan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), sekarang muncul sayap-sayap komunitas seperti Lingkar Filologi Ciputat dan Komunitas Jagongan Naskah Yogyakarta. Lingkar Filologi Ciputat sendiri baru saja diluncurkan dengan menggelar Ngobrol Filologi dengan tema membangun generasi muda cinta manuskrip. Sedangkan komunitas Jagongan Naskah Yogyakarta juga berjalan dengan baik, contohnya diskusi mengenai dokumentasi estetis-literer seni tari Paku Alam IV. Sedangkan di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga mulai menyemarakkan kajian-kajian naskah manuskrip. Bahkan, sekarang mata kuliah filologi bukan hanya diterima di Fakultas Adab dan Humaniora, ada juga di Fakultas Ushuluddin dan Tarbiyah. Dengan semakin maraknya kajian-kajian naskah, kemungkinan ‘kutukan’ filologi yang disebut tidak menarik, tidak seksi, membosankan dan tidak populer akan luntur dengan sendirinya. Membawa Manuskrip Agama Menuju Peradaban Bangsa…

    20 Nov
    20 Nov
  • BAEDLOWIE SIRODJ SANG PENDIDIK SEJATI Oleh: Adli Muaddib Aminan   Nasab KH. Baedlowie dari pihak ayah sampai kepada Waliyullah Syekh KH. Ahmad Mutamakkin. Beliau merupakan keturunan ke enam dari Syekh Mutamakkin. Nama lengkap KH. Baedlowie Sirodj bila diruntut dari garis ayahnya adalah KH. Baedlowi bin Sirojd bin Ishaq bin Sawijah binti R. Danum bin Toyyibah binti Muhammad Hendro Kusumo bin Ahmad Mutamakkin. Lahir pada tahun 1900 di desa Kajen, kecamatan Margoyoso yang kira-kira berjarak 18 km dari kota Pati ke arah utara. Beliau adalah putra kedua dari empat bersaudara, yakni Nyai Hj. Halimah, KH. Hambali, dan Nyai Hj. Fatimah, dari pasangan KH. Sirodj dan Nyai Hj. Khodijah. Bawdlowi lahir dari keluarga berlatar belakang kiai dan bangsawan di daerahnya. Di mana KH. Sirodj adalah ulama besar keturunan KH. Ahmad Mutamakkin dari dua garis, yaitu dari Raden Hendro Kusumo dan dari Nyai Alfiyah atau biasa disebut Mbah Godek. Beliau menikah dengan putri dari daerah Krasak Jepara bernama Hj. Hijrah. Bersama Hj. Hijrahlah beliau menjalani kehidupan yang penuh dengan perjuangan demi menghidupkan syiar agama hingga di akhir hayatnya. Masa Kecil dan Awal Berdirinya Pesantren Baedlowi terlahir di lingkungan pesantren yang sangat kental dengan ajaran agama Isyglam. Hal itu terlihat ketika beliau berumur sekitar lima tahun, ayahnya KH. Sirodj mendirikan Pesantren Wetan Banon yang letaknya di sebelah timur makam Syekh Mutamakkin. Di masa kecilnya KH. Baedlowie adalah sosok yang menyayangi binatang. Sampai beliau memelihara binatang-binatang ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan lain sebagainya. Ayahnya KH. Sirodj menyediakan tanah bagian timur kepada beliau untuk dibuat beberapa kamar pondokan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kehidupan di masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus akan ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik.  KH. Baedlowie adalah sosok yang alim dalam pengetahuan agama dan mampu melahirkan ide-ide atau pemikiran yang cemerlang pada masanya. Baedlowie adalah generasi kedua dari perjuangan ayahnya. Begitu pula ketika melihat potret lingkup Salafiyah pada masa KH. Baedlowie. Sehingga saat memeringati hari lahir Madrasah Salafiyah pun juga disamakan dengan haulnya KH. Sirodj. KH. Sirodj adalah seorang saudagar yang kaya. Hal itu bisa dilihat dari luasnya lahan yang dimiliknya dulu. KH. Sirodj mulai mendirikan pesantrennya setelah kepulangannya belajar dari Arab Saudi bersama saudaranya KH. Salam. Awalnya KH. Salamlah yang pertama mendirikan pesantren di Kajen bagian barat (Polgarut). Sementara KH. Sirodj masih sibuk dengan dunia perdagangannya. Setelah diingatkan kembali oleh KH. Salam mengenai cita-citanya ketika masih di Arab Saudi, beliau pun sowan ke makam Mbah Mutamakkin. Setelah selesai beliau pun tertidur. Beliau bermimpi bertemu dengan Mbah Mutamakkin yang kemudian bertanya, “Ada apa kamu ke sini?” KH. Sirodj pun menjawab, “Saya haus, Mbah.” Kemudian diberi minumlah beliau oleh Mbah Mutamakkin. Beliau berkata lagi, “Masih haus, Mbah.” Mbah Mutamakkin memberi minum lagi. “Masih haus, Mbah.” Kembali Mbah Mutamakkin memberinya minum. Begitu seterusnya hingga KH. Sirodj terbangun. Setelah beliau terbangun, beliau menyadari bahwa air yang diberikan Mbah Mutamakkin dalam mimpi adalah sebuah ilmu laduni. Seketika itu pula beliau dapat membaca segala macam kitab yang ada. Inilah salah satu karomah dari KH. Sirodj dan awal berdirinya pesantren Wetan Banon pada tanggal 12 Mei 1902. Berbeda dengan wilayah Kajen barat, Kejen bagian timur ini terkenal dengan wilayah orang-orang abangan. Yang artinya belum atau masih kurang tersentuh oleh ajaran islam. Itulah yang menjadi sasaran utama oleh KH. Sirodj yang kemudian dilanjutkan oleh KH. Baedlowi bersama saudara-saudaranya, KH Abdul Kohar (Istri Nyai Hj. Halimah), KH. Hambali, dan KH. Zubaidi (istri nyai Hj. Fathimah) mengembangkan lembaga yang telah dirintis oleh ayahnya, KH. Sirodj. Sewaktu KH. Sirodj meninggal dunia, beliau bersama adiknya KH. Hambali berperan untuk melanjutkan mengasuh Pondok Pesantren Wetan Banon, hingga waktu kolonial Jepang menutup untuk sementara …

    19 Nov
    19 Nov
  • Remaja dan Budaya Pop Masa Kini oleh: Arif Sutoyo (Arif Khilwa) Setiap bangsa memiliki kebudayaan berbeda dengan ciri khusus. Masing-masing bangsa mempunyai latar belakang yang tidak sama, sehingga kebudayaan tumbuh dan berkembang beragam. Misalnya kebudayaan bangsa Indonesia berbeda dengan kebudayaan bangsa di Amerika, Eropa, Timur Tengah dan lainya. Zaman dahulu, perbedaan kebudayaan di setiap bangsa sangatlah jelas. Terlihat dari perilaku, pakaian, bahasa, sistem kepercayaan bahkan kesenian. Kebudayaan dapat menentukan kehidupan manusia yang berada dalam masyarakatnya, karena dengan memahami unsur-unsur kebudayaan dapat dijadikan arah perjalanan hidup. Di Indonesia wujud ideal kebudayaan dikenal dengan istilah adat. Masyarakat Indonesia memegang teguh adat istiadat sebagai landasan perilaku dan hubungan sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, adat diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya melalui sosialisasi. Di era yang serba modern seperti ini, perbedaan kebudayaan setiap bangsa terlihat samar. Dahulu terlihat jelas perbedaannya, ibarat hitam dan putih. Sekarang semua seolah seragam atau bisa dibilang abu-abu. Tak terkecuali di masyarakat Indonesiapun mengalami hal tersebut, khususnya remaja. Mereka sudah tidak lagi mencerminkan kebudayaan bangsanya. Kaum remaja saat ini lebih bangga dengan kebudayaan asing daripada dengan kebudayaan bangsanya sendiri. Mereka terjangkit budaya Pop, yakni kebudayaan yang muncul sebagai dampak dari arus Globalisasi yang sudah menerjang batas geografis sebuah bangsa. Budaya yang populer saat ini dan menjadi tren dimasyarakat Internasional dari perkotaan hingga ke pelosok desa. Budaya itu seakan-akan sudah mendarah daging di dalam kehidupan kaum remaja saat ini. Kebudayaan bangsa kita sudah mulai tergeser oleh budaya baru yang didominasi oleh kebudayaan asing. Lunturnya budaya bangsa tercermin dengan munculnya sifat-sifat negatif dalam perilaku remaja seperti cenderung Hedonis, Ekstrimis, Sekuler, Westernis, Konsumtif dan sebagainya. Di era Globalisasi seperti ini, diharapkan kaum remaja menjadi orang cerdas dan mampu menyikapi perkembangan dan kemajuan teknologi. Mereka harus mampu membentengi diri dengan berbagai hal. Diantaranya, membentengi diri dengan mempertebal Iman dan Taqwa, memfilter kebudayaan asing yang masuk dengan cara memilah dan memilih kebudayaan yang positif dan kebudayaan yang negatif, dan mengadakan kegiatan yang bermanfaat yang akan berdampak positif dengan mempertebal kecintaan terhadap bangsa dan negaranya. Bangsa Indonesia masih bisa menegakkan kepala karena budayanya, maka sebagai generasi muda sudah seharusnya tetap mempertahankan eksistensi budaya Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat baik di dalam negeri maupun dunia Internasional. ( Pernah dimuat dalam kolom Guru Menulis koran Lingkar Jateng pada bulan Mei 2018) penulis: Arif Sutoyo (Arif Khilwa) Guru Mapel Sosiologi MA Salafiyah Kajen Pati

    15 Nov
    15 Nov
  • Biang Kerok Permasalahan Bangsa oleh: Arif Sutoyo (Arif Khilwa) Banyak masalah yang menimpa bangsa kita ini, mulai dari pengangguran, kemiskinan, terorisme, dan lain sebagainya. Seluruh elemen masyarakat seakan sibuk dengan permasalahan bangsa ini. Sampai mereka melupakan suatu masalah yang sebenarnya sangat besar dan menakutkan yaitu demoralisasi yang telah melanda masyarakat. Demoralisasi inilah yang sebenarnya sebagai biang kerok terjadinya seluruh masalah yang menimpa bangsa ini. Tetapi kita menganggap masalah demoralisasi adalah masalah yang kecil dan sepele. Kalau saja kita lihat dari segi kata, arti dari demoralisasi adalah kemerosotan akhlak; kerusakan moral. Maka kita akan menemukan segala akar permasalahan yang sekarang telah menimpa bangsa kita. Semua permasalahan yang terjadi berawal dari moralitas yang merosot, masalah tidak akan berhenti sampai disini saja, tetapi di masa yang akan datang, malahan akan lebih menakutkan. Karena demoralisasi tidak hanya menimpa pejabat dan golongan tua, tetapi kalangan generasi muda juga cukup luar biasa. Demoralisasi generasi muda ini cenderung disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, dampak negatif dari perubahan sosial, Faktor keluarga, Salah pergaulan, dan lain sebagianya. Melihat banyaknya faktor tersebut, maka sangatlah wajar kalau dalam realita sekarang ini banyak terjadi perilaku generasi muda yang mengarah pada demoralisasi. Seperti krisis etika dikalangan generasi muda, Minum minuman keras dan penyalah gunaan narkotika, Hubungan seks diluar nikah, Kekerasan dikalangan generasi muda, bahkan sebagai pelaku terorisme. Dari berbagai kasus demoralisasi di kalangan generasi muda sangat mengundang keprihatinan dan harus segera mencari solusi yang baik. Solusi yang kiranya bisa menanggulangi masalah demoraslisasi baik dalam bentuk pengendalian sosial yang bersifat preventif maupun represif. Pencegahan dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan baik melalui lembaga pendidikan informal (keluarga), formal (sekolah), nonformal (masyarakat). Dengan adanya saling bersinergi dari ketiga lembaga pendidikan, maka akan bisa mencapai tujuan pencegahan dari terjadinya demoralisasi dikalangan remaja bisa tercapai. Nilai dan norma sosial bisa tertanam, dipahami dan dilaksanakan oleh mereka, sehingga mampu terwujud keteraturan sosial. Adapun langkah represif, bisa dilaksanakan dengan tegas oleh pihak yang terkait dan mempunyai kewenangan. Sehingga akan menimbulkan rasa malu dan ada efek jera bagi para pelakuknya. (Pernah dimuat dalam rubrik Guru Menulis di koran Lingkar Jateng edisi Rabu, 6 Juni 2018) Penulis: Arif Sutoyo (Arif Khilwa), Guru Mapel Sosiologi MA Salafiyah Kajen Pati.

    15 Nov
    15 Nov
  • Berbicara tentang tawadu’, tidak dapat kita dilepaskan dari diri sendiri. Bertawadu’ itu sesuatu yang sangat recomended untuk diri kita sebagai upaya menuntun menjadi pribadi yang santun dan menghargai sesama. Namun, hanya sedikit orang yang memiliki sifat mulia itu. Kebanyakan manusia jika dihadapkan pada sebuah kedudukan, kepintaran, dan kekayaan, akan hanyut dalam upaya menjaga diri untuk tidak membanggakan yang mereka punyai. Bahkan mereka  akan melupakan filosofi padi, semakin banyak isi, semakin pula akan menundukkan diri. Mereka seakan tertutup kabut tebal kemewahan dunia. Berikut rangkuman wawancara tim redaksi At-Tataqif kepada beberapa santri yang sangat mengedepankan tawadhu sebagai upaya untuk menjadi orang yang lebih baik. Eka Retno Seorang siswi kelas VIII MTs Salafiyah yang gemar belajar tentang sejarah, seperti buku-buku sejarah perkembangan lahirnya NU. Ia lebih menyukai diam daripada berbicara yang kurang berfaedah. Pernah juga menjuarai lomba Oskanu Tingkat Provinsi Mapel Olimpiade Ke-NU-An baru-baru ini. Ia menilai siswa-siswi MTs Salafiyah akan sangat rugi jika hanya membanggakan sesuatu yang sebenarnya hanyalah titipan. Harta, tahta, kecerdasan, golongan, keelokan rupa, merupakan suatu amanah yang tidak untuk dipamerkan. Fenomena yang sering dia lihat pada remaja sekarang cenderung berbeda. Hanya sejumlah 70 persen yang masih menerapkan sikap tawadu’ pada diri. Seperti saat di sekolah misalnya,  mereka biasa pergi gak izin, diberi tugas guru tidak dikerjakan, enggan belajar, mengedepankan sosial media Facebook WhatsApp, serta menunda-nunda pekerjaan mulia. “Saya teringat dawuh pak Multazam saat pelajaran Aqidah di MI. Saya diminta untuk belajar tawadhu’ kepada siapapun, harus berkembang menjadi orang yang lebih baik , jangan terlalu memamerkan kelebihan/prestasi, kelebihan seharusnya digunakan membantu orang kekurangan. Itulah yang selalu saya ingat dari guru sepuh mapel agama tersebut”, ungkap Eka Retno saat ditemui tim redaksi di perpustakaan MTs. Fadilla Nur Ain Seorang siswi kelas VIII yang aktif di organisasi sekolah. Ia menjadi ketua KPPS (semacam osis) di MTs Salafiyah. Ia juga mempunyai cerita tersendiri dari guru PAI saat SD, Pak Hamid namanya. Pesan yang selalu teringat di benak Fadilla ialah jangan nakal, jadi anak yang baik dan, berguna. “Buatlah huruf khad, jika sabar dan tekun pasti dapat menjadi indah”, ungkap siswi kelas VIII F MTs Salafiyah itu. Jika ditanya cita-cita sewaktu kecil ialah menjadi guru. Mengapa guru? Guru itu bisa mengamalkan ilmunya serta ilmu yang dimiliki akan barokhah. Itulah yang diinginkan oleh ibunya yang bekerja menjadi TKW di luar negeri. “Saya ingin ibu bangga dengan anaknya yang tidak bisa apa-apa ini”, ungkap Fadilla sembari meneteskan air mata. Contoh kecil tawadu’ menurutnya adalah rendah hati dan usahakan menunduk saat melewati guru. 99 persen remaja sekarang mempunyai sifat tawadu’ atau dapat dikatakan kurang dari 100 persen karena faktor digitalisasi. “Saya pun sering melihat mereka mengikuti tren-tren gaya sekarang. Saya sebagai teman tidak berani mengingatkan jika menyangkut sifat atau sikap diri sendiri”, ungkapnya. Ia membeberkan prinsip yang dipegang teguh dari kecil, “Prinsip saya hidup untuk kebaikan akhirat. Menuju keridhoan Allah. Senantiasa mengidolakan Rasulullah. InsyaAllah “. “Warna hijau itu kesukaan rasulullah. Puasa senin kamis dan puasa daud itu adalah sebuah upaya cinta terhadap anjuran rasulullah”, jelasnya. Untuk menumbuhkan sikap tawadhu’, pastilah kita semua mempunyai tingkatan orang-orang yang dihormati. Dari yang paling, sampai yang biasa-biasa. Seperti Fadhilla misalnya seseorang yang paling dihormati di dunia ini dimulai dari orang tua, guru, toleransi dengan berbeda agama, teman, dan keluarga.[] (Essay/At-Tatsqif/MR/Majalah)

    14 Mar
    14 Mar
Goto :