– Biografi Kyai –

  • GENEALOGI KEILMUAN KIAI CERDAS DALAM BINGKAI BIOGRAFI KIAI AS’AD SAID ALI Oleh: Imroatul Musfiroh Kiai As’ad Said Ali adalah sosok kiai modern dan kharismatik juga memiliki banyak pengalaman dalam beberapa bidang dan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh khususnya dalam kalangan NU, meskipun jika dilihat dari sepak terjangnya beliau yang sekarang sangat jauh dengan dunia pesantren akan tetapi sebenarnya beliau sangat dekat dengan dunia pesantren, karena latar belakang keluarganya yang religius yaitu dari kalangan NU. Maka dari itu sosok Kiai As’ad Said Ali sangat menarik untuk dikaji dalam penulisan ini. Riwayat Hidup Kiai As’ad Said Ali Dari hasil wawancara dengan Kiai Mohammad Ulil Albab, S.Ag, M.Si, sebagai salah satu keponakan dari KH As’ad Said Ali, KH. As’ad Said Ali lahir di Kudus pada tanggal 3 Mei 1949 dari pasangan H. Said ali dan Hj. Asyrofah sebagai anak tunggal. Beliau menikah dengan Dra. Endang Sri Alina dan dikaruniai empat orang anak yaitu Zaqi Ismail, Filsafah F Wulandari,  Alex Yordanto  dan Ahmad Damasanto. Riwayat Pendidikan Beliau mengawali pendidikannya di Madrasah Ibdtidaiyah (SD) Al Ma’arif pada tahun 1956-1962 dan melanjutkan SMP di Kudus pada 1962-1965. Setelah itu beliau meneruskan pendidikan SMA-nya juga di Kudus selama 3 tahun, yaitu 1965-1968.  Lalu beliau meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) fakultas Sospol Hubungan International (FISIPOL) Yogyakarta pada tahun 1968-1974. Pada saat beliau menjadi mahasiswa, beliau juga mondok di  Pesantren Al-Munawwar Krapyak Yogyakarta selama 5 tahun dalam asuhan KH Ali Ma’shum  yaitu sekitar tahun 1969-1974. Setelah itu, Kiai As’ad Said Ali menempuh pendidikannya di LIPIA pada tahun 1979-1780. Latar belakang pengalaman dan intelektual itu membuat dia meraih gelar doktor honoris causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang. Pengalaman Organisasi Saat beliau duduk di bangku SMA beliau sangat aktif mengikuti organisasi yang berhungan dengan NU, salah satunya yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama) dan juga GP Ansor bersama para pemuda kudus. Selain itu organisasi kemahasiswaan seperti PMII dan HMI juga pernah beliau ikuti. Menjadi ketua seksi ilmiah dalam Korps Mahasiswa Hubungan International juga pernah ia jalani. Dari serangkaian aktivitas kemahasiswaan itu yang tentunya membuat beliau semakin berwawasan dan memahami mengapa islam menekankan sikap tasawuth-i’tidal, tawazun dan tasamuh. Pada tahun 2010-2015 beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, keberadaan beliau di organisasi ini menjadi tempat untuk menularkan ilmu-ilmu dan pengalamannya tentang bela negara dan cinta tanah air dengan mengadakan seminar dan diskusi ilmiah, serta menjalin hubungan silaturahmi dengan para ulama negara Timur Tengah. Pengalaman Pekerjaan Pada saat ini KH. As’ad Said Ali merupakan salah satu Pengasuh dan Pengurus Pesantren Salafiyah Kajen Pati, pesantren yang santrinya lebih dari 2000 orang. Di Kajen-Pati, beliau menjabat sebagai Ketua Yayasan Salafiyah, banyak sekali kiprah beliau di yayasan yang beliau kelola. Salah satunya yaitu beliau berusaha meningkatkan sumber daya manusia para siswa-siswi madrasah agar bisa menduduki bangku kuliah di luar negeri sehingga mereka mampu bersaing di dunia nasional maupun internasional. Karena beliau beranggapan bahwa kualitas siswa-siswi yang baik akan memberikan banyak generasi muda yang bisa dibanggakan. Selain itu, beliau juga meninggkatkan SDM para pengajar  agar kompeten sehingga mampu memberikan pehaman yang baik kepada siswa. Pada tahun 1975 beliau memulai karirnya sebagai anggota BIN (Badan Inteligen Negara), beliau menjabat sebagai Kasi (kepala seksi) selama 2 tahun, sebelumya dalam kurun 7 tahun beliau sudah ditugaskan ke beberapa negara seperti Amerika, Afrika, dan Asia lebih dari 50 negara, antara lain Arab Saudi, Syria, Lebanon, Negara-negara Asean, Jepang, Korsel, AS, Australia, Austria, Nedherland, India dll. Hal ini yang membuat beliau memiliki banyak pengalaman. Karena keintelektualitasnya itulah setelah lulus dari UGM beliau diminta oleh tokoh NU Subhan ZE untuk berkiprah di Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN). Berbekal ilmu hubungan internasional dan pesantren. Awalnya beliau ditunjuk untuk menjadi Kasi…

    23 Nov
    23 Nov
  • Oleh : Zainal Abidin Sejarah mencatat bahwa Islam di Nusantara pernah mengalami masa kejayaannya, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab keagamaan karya ulama Nusantara abad 16 hingga 20-an. Beberapa tokoh ulama yang menulis kitab-kitab saat itu ialah Abd al-Rauf Singkel (w. 1693), dengan karya Tafsir Turjuman al-Mustafid, Abd al-Samad al-Falimbani (w. 1789) dengan karya Sayr al-Salikin, Arsyad al-Banjari (w. 1812) dengan karya Sabil al-Muhtadin. KH.Sholeh Darat (w. 1903) dengan karya Syarh al-Hikam, Majmu’at al-Syariah li al-Awam. Ditambah lagi, ulama Nusantara saat itu memiliki peran yang penting hingga tingkat internasional. Beberapa diantaranya menjadi mufti dan pengajar di Mekkah, seperti Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1898) pengarang tafsir Marah Labid , ada juga Syekh Yasin Al-Fadani yang memegang sanad hadis dunia. Kitab-kitab diatas hanyalah sampel yang menghiasi kurun abad 16 hingga 20-an awal. Namun ternyata, aksara Jawi yang menjadi ciri khas budaya Islam secara massif telah digunakan di wilayah Melayu meliputi Indonesia, Brunei, Malaysia, Patani, dan Singapura sejak abad ke -14. Saat itu telah menjadi salah satu tulisan resmi untuk keperluan keagamaan. Keterangan ini diperkirakan Braginsky, seorang Doktor sastra Indonesia dan Malaysia yang kini mengajar di School of Oriental and African Studies, Universitas London. Sedangkan menurut Oman Fathurrahman, sejak abad ke-13 penetrasi Islam bergerak semakin kuat hingga menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa politik, dagang, agama. Inilah yang menyebabkan perubahan penting dalam sejarah dan tradisi tulis naskah. Tradisi menulis naskah dengan nuansa Islam semakin marak, hal ini dibuktikan dengan hasil pencatatan mutakhir yang dilakukan oleh Henri Chamberd-Loir dan Oman Fathurrahman menyatakan bahwa terdapat sekitar 5000 manuskrip Melayu, baik yang disimpan di dalam dan di luar negeri. Itupun belum ditambah pendataan oleh Lembaga Malaysia dan Brunei Darussalam yang memperoleh ribuan naskah Melayu di berbagai tempat. Manuskrip-manuskrip inilah yang menjadi saksi atas kejayaan Islam saat itu. Bagaimana sikap kehidupan antar masyarakat, kondisi sosial, ajaran tasawuf hingga konsep teologi yang berkembang saat itu terekam di lembaran-lembaran naskah. Selanjutnya naskah-naskah kuno itu tak mungkin akan terbaca oleh generasi sekarang karena terjadi distingsi atau jarak yang lama antara masa lalu dan masa kini. Aksara dan bahasa yang digunakan pun telah mengalami perubahan. Sehingga diperlukan sebuah alat yang bisa menjembatani keterpautan ini. Disinilah kegunaan ilmu filologi, karena filologi is about reading manuscripts. Dengan filologi teks kuno dapat dicek kebenarannya, bisa dilakukan penyuntingan jika ada kesalahan, transliterasi bahkan penerjemahan agar bisa dibaca oleh khalayak masa kini. Kajian Filologi Semakin Eksis Seperti yang ditulis oleh Vini Hidayani, sekarang kajian filologi di Indonesia semakin eksis . Beberapa bulan lalu, Perpustakaan Nasional baru selesai menyelenggarakan Festival Naskah Nusantara jilid IV yang berlangsung dari tanggal 17-23 September. Kegiatan yang bertajuk Relevansi, konstektualisasi, dan aktualisasi nilai-nilai kearifan dalam naskah nusantara menuju Indonesia maju ini banyak dikunjungi oleh akademisi dan masyarakat umum. Dalam festival tersebut banyak diselenggarakan seminar tentang potensi kemajuan, termasuk salah satunya dari Kementerian Agama. Upaya pemerintah untuk memperhatikan naskah-naskah Nusantara termasuk manuskrip Agama Islam, ternyata disambut baik oleh akademisi dan pecinta kajian naskah. Selain adanya pergerakan yang dilakukan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), sekarang muncul sayap-sayap komunitas seperti Lingkar Filologi Ciputat dan Komunitas Jagongan Naskah Yogyakarta. Lingkar Filologi Ciputat sendiri baru saja diluncurkan dengan menggelar Ngobrol Filologi dengan tema membangun generasi muda cinta manuskrip. Sedangkan komunitas Jagongan Naskah Yogyakarta juga berjalan dengan baik, contohnya diskusi mengenai dokumentasi estetis-literer seni tari Paku Alam IV. Sedangkan di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga mulai menyemarakkan kajian-kajian naskah manuskrip. Bahkan, sekarang mata kuliah filologi bukan hanya diterima di Fakultas Adab dan Humaniora, ada juga di Fakultas Ushuluddin dan Tarbiyah. Dengan semakin maraknya kajian-kajian naskah, kemungkinan ‘kutukan’ filologi yang disebut tidak menarik, tidak seksi, membosankan dan tidak populer akan luntur dengan sendirinya. Membawa Manuskrip Agama Menuju Peradaban Bangsa…

    20 Nov
    20 Nov
  • BAEDLOWIE SIRODJ SANG PENDIDIK SEJATI Oleh: Adli Muaddib Aminan   Nasab KH. Baedlowie dari pihak ayah sampai kepada Waliyullah Syekh KH. Ahmad Mutamakkin. Beliau merupakan keturunan ke enam dari Syekh Mutamakkin. Nama lengkap KH. Baedlowie Sirodj bila diruntut dari garis ayahnya adalah KH. Baedlowi bin Sirojd bin Ishaq bin Sawijah binti R. Danum bin Toyyibah binti Muhammad Hendro Kusumo bin Ahmad Mutamakkin. Lahir pada tahun 1900 di desa Kajen, kecamatan Margoyoso yang kira-kira berjarak 18 km dari kota Pati ke arah utara. Beliau adalah putra kedua dari empat bersaudara, yakni Nyai Hj. Halimah, KH. Hambali, dan Nyai Hj. Fatimah, dari pasangan KH. Sirodj dan Nyai Hj. Khodijah. Bawdlowi lahir dari keluarga berlatar belakang kiai dan bangsawan di daerahnya. Di mana KH. Sirodj adalah ulama besar keturunan KH. Ahmad Mutamakkin dari dua garis, yaitu dari Raden Hendro Kusumo dan dari Nyai Alfiyah atau biasa disebut Mbah Godek. Beliau menikah dengan putri dari daerah Krasak Jepara bernama Hj. Hijrah. Bersama Hj. Hijrahlah beliau menjalani kehidupan yang penuh dengan perjuangan demi menghidupkan syiar agama hingga di akhir hayatnya. Masa Kecil dan Awal Berdirinya Pesantren Baedlowi terlahir di lingkungan pesantren yang sangat kental dengan ajaran agama Isyglam. Hal itu terlihat ketika beliau berumur sekitar lima tahun, ayahnya KH. Sirodj mendirikan Pesantren Wetan Banon yang letaknya di sebelah timur makam Syekh Mutamakkin. Di masa kecilnya KH. Baedlowie adalah sosok yang menyayangi binatang. Sampai beliau memelihara binatang-binatang ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan lain sebagainya. Ayahnya KH. Sirodj menyediakan tanah bagian timur kepada beliau untuk dibuat beberapa kamar pondokan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kehidupan di masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus akan ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik.  KH. Baedlowie adalah sosok yang alim dalam pengetahuan agama dan mampu melahirkan ide-ide atau pemikiran yang cemerlang pada masanya. Baedlowie adalah generasi kedua dari perjuangan ayahnya. Begitu pula ketika melihat potret lingkup Salafiyah pada masa KH. Baedlowie. Sehingga saat memeringati hari lahir Madrasah Salafiyah pun juga disamakan dengan haulnya KH. Sirodj. KH. Sirodj adalah seorang saudagar yang kaya. Hal itu bisa dilihat dari luasnya lahan yang dimiliknya dulu. KH. Sirodj mulai mendirikan pesantrennya setelah kepulangannya belajar dari Arab Saudi bersama saudaranya KH. Salam. Awalnya KH. Salamlah yang pertama mendirikan pesantren di Kajen bagian barat (Polgarut). Sementara KH. Sirodj masih sibuk dengan dunia perdagangannya. Setelah diingatkan kembali oleh KH. Salam mengenai cita-citanya ketika masih di Arab Saudi, beliau pun sowan ke makam Mbah Mutamakkin. Setelah selesai beliau pun tertidur. Beliau bermimpi bertemu dengan Mbah Mutamakkin yang kemudian bertanya, “Ada apa kamu ke sini?” KH. Sirodj pun menjawab, “Saya haus, Mbah.” Kemudian diberi minumlah beliau oleh Mbah Mutamakkin. Beliau berkata lagi, “Masih haus, Mbah.” Mbah Mutamakkin memberi minum lagi. “Masih haus, Mbah.” Kembali Mbah Mutamakkin memberinya minum. Begitu seterusnya hingga KH. Sirodj terbangun. Setelah beliau terbangun, beliau menyadari bahwa air yang diberikan Mbah Mutamakkin dalam mimpi adalah sebuah ilmu laduni. Seketika itu pula beliau dapat membaca segala macam kitab yang ada. Inilah salah satu karomah dari KH. Sirodj dan awal berdirinya pesantren Wetan Banon pada tanggal 12 Mei 1902. Berbeda dengan wilayah Kajen barat, Kejen bagian timur ini terkenal dengan wilayah orang-orang abangan. Yang artinya belum atau masih kurang tersentuh oleh ajaran islam. Itulah yang menjadi sasaran utama oleh KH. Sirodj yang kemudian dilanjutkan oleh KH. Baedlowi bersama saudara-saudaranya, KH Abdul Kohar (Istri Nyai Hj. Halimah), KH. Hambali, dan KH. Zubaidi (istri nyai Hj. Fathimah) mengembangkan lembaga yang telah dirintis oleh ayahnya, KH. Sirodj. Sewaktu KH. Sirodj meninggal dunia, beliau bersama adiknya KH. Hambali berperan untuk melanjutkan mengasuh Pondok Pesantren Wetan Banon, hingga waktu kolonial Jepang menutup untuk sementara …

    19 Nov
    19 Nov
  • MENELADANI GURU: – Ibu Nok Dzurriyah –   Mencari ridho Allah, itulah salah satu motto hidup salah satu guru MTs Salafiyah ini. Guru sekaligus ibu rumah tangga yang lahir di lingkungan kyai ini sangatlah luar biasa. Marilah kita sejenak mengintip dengan saksama biografi guru tersebut. Ia bernama Nok Dzurriyah, ia dilahirkan di Pati 18 Desember 1952. Sampai sekarang ia menetap di kediaman peninggalan orang tuanya, di desa Kajen RT 04/01 Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Guru yang kerap dipanggil Bu Nok itu semasa kecilnya menempuh pendidikan di SD yang merangkap diniyah untuk memperdalam ilmu agama, kemudian ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Tsanawiyah Mathali’ul Falah sampai tamat di Aliyah Mathali’ul Falah. Setelah lulus Aliyah, Ia dijodohkan orang tua tanpa sepengetahuannya yaitu dengan Muhammad Masrukhin Sirodj. Pernikahan pasangan ini dikaruniai 4 anak yang semuanya sekolah dan lulus di MA Salafiyah Kajen. Mereka semua sekarang sudah sukses di bidangnya masing-masing. Selain itu, Bu Nok juga mengikuti berbagai organisasi seperti: menjadi pengurus muslimat NU cabang kabupaten Pati, dengan Alasan ingin melestarikan ajaran islam ala ahlussunah wal jamaah. Pengabdian Selain menjadi pengurus muslimat NU, Bu Nok yang kesehariannya dekat dengan pesantren juga mengabdikan diri di Yayasan Salafiyah. Ia sudah mengabdi di sana sejak tahun 1974. Selama mengajar ia dikenal murid-muridnya sebagai pribadi yang apa adanya dan cara mengajar yang disiplin. Ia pun kagum jika menemui siswa yang berasal dari luar daerah. Walaupun masih lumayan sulit untuk berkomunikasi dengan murid yang dari luar daerah. Ia mengaku pengambdian yang dilakukan di Yayasan Salafiyah semata-mata  hanya karena “Nasrul ilmi lib tighoi mardhotillah” atau hanya ingin mengharap ridho Allah dan bukan karena apa-apa. Ia pun mempunyai visi ‘mencetak kader-kader yang pintar tur kendel, berani di semua hal. Itulah yang patut kita jalankan sebagai siswa dan murid beliau. Harapannya kepada MTs Salafiyah yaitu agar ke depan dapat menjadi sekolah yang lebih maju, lebih baik, dan anak-anaknya bisa menguasai IMTAQ dan IPTEK, berilmu, bisa memperbaiki, dan menjaga akhlaq ketika di sekolah maupun di luar sekolah, serta bisa berguna bagi agama, nusa, bangsa, dan negara.[]   Biografi ini ditulis oleh Tim Redaksi At-Tatsqif tahun 2017 Diterbitkan di Majalah At-Tatsqif edisi Ke IV  

    17 Nov
    17 Nov
  • Bangkitkan Negeri dengan Santri *Penulis: Karisma Lutfiana Nurul Fadila Eksistensi pesantren di tengah arus modernitas saat ini tetap signifikan. Kebiasaan dan tradisi di pesantren tidak lepas dari santri dan kyai sebagai objek jalannya sistem pendidikan yang diselenggarakan. Pendidikan di pondok pesantren secara umum adalah mewujudkan masyarakat yang memliki tanggung jawab tinggi di hadapan Allah SWT sebagai khalifah sehingga harus memiliki sikap, wawasan, pengamalan iman, dan akhlaqul karimah serta nilai–nilai luhur yang dimiliki. Implementasi hal tersebut tidak hanya kepada Allah semata sebagai wujud hubungan makhluk secara vertikal (hablumminallah) melainkan juga hubungan antar sesama makhluk secara horizontal (hablumminannas). Santri memiliki beberapa kelebihan, khususnya pengetahuan dan kecerdasan di bidang spiritual dan akhlak. Karena dengan sistem pembelajaran yang sudah diterapkan di pesantren santri telah dididik dan dibimbing agar mampu menjawab segala persoalan dan tantangan di masa depan. Hingga saat ini keberadaan santri sangat diharapkan mampu menjadi pendongkrak dalam pembangunan di era milenial. Di era yang serba praktis generasi muda penerus bangsa mengalami degradasi moral sedikit demi sedikit dilihat dari partisipasinya dalam membangun negeri, contohnya mereka sibuk dengan gadget dan media sosial tapi tidak peduli dengan pemasalahan sosial di sekitarnya, bahkan mereka lebih peduli dengan gosip-gosip artis dan hoaks serta mengutarakan komentar-komentar yang dapat menimbulkan kesenjangan dengan pihak yang bersangkutan. Dengan adanya pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan islam yang asli dari Indonesia yang berperan sebagai wadah pengajaran berbasis islam dalam membina, mencerdaskan, dan mengembangkan masyarakat melalui para santri. Dalam sambutan pada salah satu acara seminar nasional bertajuk “Pesantren Kepemimipinan Nasional dan Masa Depan Indonesia”, Dr. H. Affandi Mochtar, M.A., mengatakan “Pondok pesantren memiliki andil besar bagi perjungan kemerdekaan Republik Indonesia sampai sekarang sekaligus berperan besar bagi pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan pendidikan Indonesia”. Terbukti ketika negara berada dalam penjajahan Belanda, kiai dan santri membentuk tentara Hizbullah untuk melawan penjajah, bahkan seorang Jendral Besar yaitu Jendral Sudirman lahir juga dari pesantren. Generasi milenial saat ini harus terus dibina dalam segi keseluruhan mulai dari kemampuan diferensial dan distinctive menghadapi perkembangan perubahan global. Hal ini disebabkan generasi tersebut terlahir dimana dunia modern dan teknologi canggih diperkenalkan publik. Istilah milenial sendiri dilekatkan pada suatu generasi yang dianggap berbeda karena generasi milenial adalah generasi yang berumur 17-37 pada tahun ini. Dengan kecanggihan teknologi yang berkembang pesat telah dimanfaatkan oleh semua komponen masyarakat tidak hanya bagi lapisan masyarakat berusia dewasa namun, juga merambah pada remaja bahkan anak–anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Taman Kanak–Kanak. Santri bukan hanya seorang yang memiliki intelektual yang tinggi tapi juga sosok yang mempunyai kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Ilmu yang diperoleh dari pesantren untuk bisa berpandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat. Tidak lepas dari aturan yang diberlakukan dalam pesantren yaitu belajar mengaji, menghafal, hingga mengikuti aktivitas pondok yang bertujuan menciptakan kader santri untuk bisa belajar istiqomah sehingga tidak terlepas dari hal–hal yang dapat membuat malas dan tidak fokus. Tidak semua santri berpandangan jauh ke depan atau berupaya mengamalkan segala keterampilan intelektualnya di segala bidang pada saat mereka sudah keluar dari pesantren. Sering kali kita jumpai sebagian besar santri beranggapan bahwa hanya ilmu yang telah dipelajari di pesantren saja yang akan bermanfaat di kehidupan mereka selanjutnya. Seharusnya mereka paham bahwa tugas sebagai generasi milenial tidak hanya mengamalkan ilmu yang terdapat dalam kajian di pesantren tetapi juga harus mampu membaca kalam kauliah maupun kalam kauniah yang ada disekitar kita secara optimal dengan pemikiran yang kontemporer. Pentingnya memahami segala sumber ilmu bagi santri justru menjadi peluang yang sangat berharga karena di pesantren telah menyediakan pendidikan formal maupun non formal. Keberhasilan pesantren dalam menciptakan sosok santri yang handal terus digalakkan agar bisa bersaing dengan kemajuan zaman. Peran santri dalam pembangunan sudah tidak diragukan lagi. Banyak…

    16 Nov
    16 Nov
  • MENGUAK SEKILAS FIGUR Kyai Suparman, S.Pd.I Pada Majalah edisi ke-2, Tim Redaksi At-Tatsqif MTs Salafiyah mengungkap sekilas figur yang dapat dijadikan sosok inspiratif santri Salafiyah. Ia adalah Kyai Suparman, S.Pd.I., biasa dipanggil dengan sapaan Bapak Parman. Dilahirkan di kota Jepara pada tanggal 1 Juni tahun 1957. Ayahnya bernama Bapak Pasiran dan Ibunya bernama Ibu Sunijah. Ia mengabdikan diri di Yayasan Salafiyah Kajen sejak tahun 1978 hingga saat ini. Pelajaran yang diajarkan kepada siswa-siswi Salafiyah meliputi Fiqih Syri’ah, Fiqih Taqrib, dan juga praktik ibadah. Pak Parman menempuh pendidikan pertamanya di Sekolah Rakyat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah di satu yayasan yaitu Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) hingga lulus. Setelah lulus itulah, ia langsung mengambidak diri di Salafiyah. Di usia tua, Pak Parman masih melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi UNWAHAS yang sering disebut Universitas Wahid Hasyim, dan baru mendapatkan gelar S1 lebih kurang empat taun yang lalu. Perguruan Tinggi ini berada di Semarang. Sungguh luar biasa bukan semangat belajarnya? Sosok seorang perempuan yang setia menemani Pak Parman sampai saat ini adalah Ibu Muntiana, yang beralamat di Desa Guyangan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pada saat Pak Parman meminang Ibu Muntiana, ketika itu Pak Parman berumur 31 tahun dan Ibu Muntiana baru berumur 16 tahun. Meskipun begitu, mereka tetap menjalani kehidupan yang harmonis, dan tidak mempermasalahkan perbedaan umur yang begitu signifikan. Pada saat itu, Pak Parman tidak hanya mengajar di Yayasan Salafiyah. Namun, ia memiliki usaha sampingan yaitu berjualan kain dan kasur di sekitar Desa Bulumanis. Ciri khas Pak Parman dalam mengajarkan materi kepada siswa-siswi Salafiyah adalah dengan menggunakan metode ceramah dan praktek ibadah. Satu yang tak tertinggalkan yaitu kalimat-kalimat indah yang disampaikan Pak Parman kepada para santri atau pesan sedikit untuk mereka adalah agar menatap masa depan dengan lebih kreatif, tidak bergantung pada orang lain, dan usaha dengan cara mandiri tanpa mengesampingkan ibadah, terutama ibadah shalat lima waktu. Terakhir, jangan lupa bertemanlah dengan orang-orang yang rajin, terutama dalam mencari ilmu yang manfaat untuk menatap masa depan yang lebih cerah dan yang lebih baik. Itulah sekelumit kisah tentang sosok yang sangat bijaksana yaitu, Kyai Suparman, S. Pd. I. Semoga bermanfaat!!!   Biografi ini ditulis oleh Tim Redaksi At-Tatsqif tahun 2015 Diterbitkan di Majalah At-Tatsqif edisi Ke II

    16 Nov
    16 Nov
Goto :